web stats

Jumat, 07 Maret 2014

Kebudayaan Tepung Tawar



Adat dan upacara adat yang disebut Tepung Tawar merupakan salah satu bentuk adat dari sekian banyak bentuk adat berserta upacaranya, yang sejak ratusan tahun silam telah di kenal dan diapresiasi cukup baik oleh masyarakat Melayu Sambas. Tepung Tawar mulai dikenal masyarakat Malayu Sambas, belum di dapatkan data yang jelas. Namun bila disimak dari pelaksanaan upacaranya, acara tepung tawar ini mulai sejalan dangan mulai pesatnya ajaran agama Islam yang di sebarkan ke daerah ini oleh para mubaliq, baik yang datang dari Arab, Sumatera, Malaysia, Thailand (patani), dan pulau-pulau lainnya.
Upacara adat Tepung Tawar terdapat juga pada masyarakat didaerah Melayu Pontianak, Mempawah, Ngabang, Ketapang, Sintang, Sanggau dan Kapuas Hulu. Fungsi dan tujuan Tepung Tawar senantiasa menunjukkan persamaan, apabila terdapat perbedaan, kemungkinan dalam sebutan atau dialok bahasa setempat.
Kata Tepung Tawar kalau ditinjau dari bahasa Indonesia terdiri dari kata Tepung dan kata Tawar yang bermakna tepung yang rasanya tawar dan tidak asin. Memang salah satu perlengkapan Tepung Tawar terdiri dari tepung beras tersebut. Tetapi didalam bahasa Melayu Sambas kata ”tawar” mendekati kata “jampi” atau “mantra” bukan lawan kata asin “air tawar” bermakna air yang telah di jampi atau dibacakan doa oleh tetua-tetua kampong.



A. Tepung Tawar
Acara dan upacara Tepung Tawar olah masyarakat Melayu Sambas dilakukan dlam berbagai kegiatan. Pada umumnya meliputi siklus daur) kehidupan manusia,artinya Tepung tawar dilakukan pada saat pelaksanaan perkawinan, saat si Ibu melahirkan anak pertamanya. Dan pada saat sebuah keluarga mendapat musibah meninggal dunia. Pada masa-masa tertentu. Yaitu terjadinya kejadian atau pristiwa sangat penting dalam masyarakat Melayu Sambas juga dilakukan acara Tepung Tawar. Contoh beberapa kejadian atau pristiwa penting secara singkat diuraikan sebagai berikut.

1. Pada pelaksanaan perkawinan, Tepung Tawar dilakukan terhadap kedua pengantin, yang dilakukan pada hari ketiga setelah hari pesta kawin. Setelah Tepung Tawar dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara adat “mandi bululus” dan acara “balik tikar”

2. Calon ibu yang kehamilan pertamanya memasuki usia tujuh bulan dan usia sembilan bulan, melakukan Tepung Tawar tujuh bulan. Tepung Tawar sembilan bulan (disebut juga”Tepung Tawar”atau “Belenggang”) ketika sang bayi berusia 40 hari dilakukan pada acara Tepung Tawar bayi dan kedua suami-istri.

3. Bila ada keluarga yang menempati rumah baru (pindah rumah maka di lakukan pula acara Tepung Tawar)

4. Tepung Tawar dilaksanakan juga bila ada anak laki-laki yang akan dikhitan.

5. demikian juga keluarga yang salah seorang anggota keluarganya meninggal, pada hari-hari tertentu setelah hari penguburan akan dilaksanakan acara Tepung Tawar bagi keluarga yang ditinggalkan.

Maksud dan fungsi mengadakan acara Tepung Tawar ini adalah untuk memohon keselamatan dan terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, yang tentunya di tunjukkan krpada Allah Swt. Yang menciptakan manusia dan alam raya. Inilah barang kali tujuan pokok, disamping adanya tujuan lain yang tersirat dari upacara Tepung Tawar tersebut. Pada akhir dari acara Tepung Tawar senantiasa dipanjatkan doa selamat oleh tokoh dan tua-tua kampong.

B. Pelaksanaan Tepung Tawar

Manjelang pelaksanaan Tepung Tawar, diperlukan persiapan, perlengkapan, tenaga pelaksanaan, dan lain-lain. Berikut ini uraian secara ringkas hal-hal yang harus ada dan dipersiapkan dalam ritual Tepung Tawar tersebut.
1. Waktu pelaksanaan tepung tawar umumnya pada baiyi atau pada sing hari, bertempat dirumah atau orang yang hajatan. (bersangkutan)

2. Pelaksanaannya terdiri antara lain :
a. Satu buah mangkok putih tempat tepung beras yang telah di hancurkan dengan air tolak bala, yaitu segelas air putih yang di bacakan doa tolak bala. Selain untuk menghancurkan tepung beras, air tawar tolak bala digunakan juga untuk diminum atau untuk disiramkan di kepala yang ditepung tawari.

b. Beberapa helai daun lenjuang ungu, daun mentibar (disebut daun ntibar), dan beberapa helai daun ribu-ribu.

c. Sebentuk cincin emas atau perak, terutama pada tepung tawar mandi belulus pengantin. Cincing tersebut diikatkan pada anyaman daun kelapa muda.

d. Beras kuning secukupnya.

e. Sebuah talam kecil tempat meletakkan mangkuk.

Orang di minta untuk melaksanakan Tepung Tawar disebut “Tukang Pappas”. Pelaksanaan di sebut “mappas”. Tukang Pappas ini biasanya orang-orang tua di kampung, keluarga tua terdekat, dan lain-lain. Jumlah tukang pappas selamanya ganjil, misalnya 3,5 atau 7 orang. Jumlah ganjil ini memang telah ditentukan adat. Kalau dilakukan laki-laki atau perempuan maka jumlahnya di atur, misalnya kalau lima orang, dibagi 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Kalau Pemappas sebanyak 7 orang dapat di bagi lima laki-laki, dua orang perempuan atau 3 orang perempuan dan empat orang laki-laki, dan seterusnya. Tiga jenis daun tersebut di atas diikat dijadikan satu berikut cincin, diletakkan disamping mangkuk berisi air tupung beras. Beras kuning dimasukkan kedalam gelas kecil, diletakkan di samping mangkuk.
Setelah sesuatu lengkap dan maka acara Tepung Tawar dilaksanakan. Untuk pelaksanaan penulis mengambil contoh acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Acara ini biasanya dilaksanakan pada hari jumat pagi. Pada malam jumat biasanya dilakukan pembacaan surat yasin oleh para tamu. Pada saat selesai membaca surat yasin dan doa maka tamu di sungguhi jamuan berupa nasi, kue-kue sop kimlo, besok paginya tetamu yang hadir tersebut di manta untuk hadir pula sekitar pukul 5.30 WIB atau pukul enam pagi.
Keluarga yang pindah rumah duduk dilantai beralaskan tikar. Sang ibu di samping bapak, di kiri atau kanan duduk anak-anak mereka . Posisi duduk dengan melonjorkan kedua kaki ke depan. Busana yang di pakai bebas, rapi, dan bersih. Kopiah yang di pakai di tanggalkan dan kedua tangan di atas lutut dengan tapak tangan terbuka.
Setelah siap maka tibalah orang pertama Tukang Pappas melaksanakan tugasnya. Mangkuk berisi air tepung beras dipegang dengan tangan kiri, yangan kanan memengan ikatan daun lenjuang ,ntibar, daun ribu-ribu. Ikatan daun dicelupkan kedalam mangkuk, kemudian dengan perlahan-lahan dipukul-pukulkan ke bahu kanan dan kiri si Bapak, kemudian dipukulkan pada kedua tapak tangan, setelah itu, pada kedua kaki. Hal yang sama dilakukan juga kepada si Ibu, anak tertua, dan anak berikut sehingga selesai.
Setelah memappas maka si Bapak, Ibi, dan anak-anak ditaburi beras kuning pada kepalanya. Setelah selesai tukang pappas pertama, dilanjutkan oleh Tukang Pappas kedua, dilanjutkan oleh Tukang Pappas ketiga, keempat, dan seterusnya sesuai dengan jumlah pemappasan yang telah ditentukan.
Tukang Pappas terakhir sedikit berbeda dengan Tukang Pappas sebelumnya. Pappasan terakhir, setelah melakukan pappasan seperti Pemappasan terdahulu, Pemappasan terakhir harus pyla memappas bagian-bagian rumah yang dipindahi, yaitu memeppas keempat sudut (tiag sudut) rumah, dimulai dari sudut kanan luar rumah, kemudian menuju ke belakang rumah. Setelah selesai, daun (ikatan daun) dan air tepung tawar dibuang ketempat khusus di belakang rumah.
Keluarga yang ditepung tawari diberi minum air tolak bala kemudian mandi. Suguhan jamuan pada pagi ituselalu berupa kue-kue sebanyak 5 sampai 8 macam. Diadatkan pula untuk tetep menyuguhkan kue apam beras, ketupat ketan, dan bertih yang diberi gulla merah. Minumannya selalu manis seperti kopi atau kopi susu.
Secara garis besar dan umum dilakukan adalah seperti acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Pada acara Tepung Tawar pengantin mandi belullus acara tambahan adalah meniup Tawar yang diletakkan di dalam “dulapan” berisi beras, padi, gula pasir, kelapa, dan lain-lain. Lilin sebanyak 5 sampai 7 buah ditiupkan secara bersamaan oleh kedua pengantin. Setelah itu di lanjutkan dengan mandi bersama yang dilakukan siraman oleh beberapa “tukang siram” dari para tetamu yang di undang.
Pada acara ini salah seorang penyiram melakukan sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Setelah ia melakukan siraman satu atau dua kali, Siraman ketiga bukan ditujukan kepada kedua pengantin tetapi diarahkan dan ditujukan kepada tetamuyang menyaksikan. Tentu saja tetamu yang terkena siraman iar basah kuyup dan ia pun secara spontan mengambil gayung dan menyiram tetamu yang belum terkena siraman. Suasana menjadi ramai dan tawa berkepanjangan.
Selesai acara mandi-mandi ini, dilanjutkan dengan lagi acara “balik tikar” dengan tata cara tertentu pula. Tepung Tawar pengantin jamuan yang di hidangkan biasanya berdentuk makan nasi “bersaprah” (makan beregu).
Pada Tepung Tawar kehamilan pertama berusia tujuh bulan yang ditepung tawari adalah si Ibu yang hamil. Pada acara Tepung Tawar kehamilan berusia atau memasuki usia sembilan bulan, Tepung Tawar ini disebut “Belenggang atau Tepung Tawar Minyak”. Sebelum ditepung tawari cara biasa, si Ibu berbaring diatas tempat tidur ber Alaskan kain batik. Seorang bidan (dukun beranak) yang telah di “tampah” lama sebelumnya mengurut-urut perut si Ibu. Selesai urutan pertama, kain batik pertama diambil demikian dilakukan sampai ketujuh kain ditarik dari alas si Ibu.
Pada saat itu, adapt Tepung Tawar Belenggang sudah jarang dilakukan. Tepung Tawar setelah si bayi berusia empat puluh hari yang kemudian dilanjutkan dengan acara “injak bumi” juga agak jarang dilakukan. Hal ini tidak dilakukan lagi mungkin disebabkan banyaknya perlrngkapan yang diperlukan, misalnya tanah yang akan diinjak si bayi haruslah tanah yang di ambil dimekah, saat orang naik haji.

C. Adat Tepung Tawar ke Depan

Bentuk aspek seni budaya dapat hilang atau mati karena kehilamhan fungsinya dalam masyarakat pendukung. Hilangnya fingsi tersebut karena factor internal dan eksternal, factor ekternal karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup membawa pengaruh dalam budaya lokal sehingga terjadi gesekan dan benturan yang berdampak negative, seperti perubahan nilai-nilai, pola piker dan pola tingkah laku dalam hidup bermasyarakat dan budaya.



ali ini ane mau berbagi informasi mengenai adat istiadat masyarakat Kabupaten Sambas terutama di Desa ane Desa Sungai Kumpai Dusun Semayong.Mengenai apa yang ane akan bahas itu, lansung aja dah ke bawah ini :


Tepung Tawar (bahasa sambas ) Adalah adat istiadat dari masyarakat Melayu Sambas, Kabupaten Sambas, terutama di Desa Sungai Kumpai Dusun Semayong,, Kalimantan Barat. Kenapa ane tulis " terutama " di Desa Sungai Kumpai? Di Karenakan Arti Dari kata " Tepung Tawar " itu sendiri memiliki Arti yang luas, namun arti luas tersebut ane persempit dengan hanya membahas nya dari arti nya sebagai adat istiadat di Desa Sungai Kumpai Dusun Semayong ini.

" Tepung Tawar " biasanya di lakukan untuk menyambut kelahiran seorang anak dalam sebuah keluarga atau merayakan kelahiran seorang anak layak nya syukuran yang di lakukan setelah 9 hari atau lebih kelahiran anak tersebut, namun batas nya tidak melebihi dari 20 hari.

" Tepung tawar " merupakan tradisi yang turun temurun, yang mana dalam menyambut kelahiran anak di dalam sebuah keluarga, biasanya sang orang tua, mengadakan acara yang layak nya acara resepsi pernikahan, yang mana ada 3 hari perayaan, menurut adat Sambas terutama di Desa Semayong, bahwa ketika suatu acara yang bersifat sakral, biasanya di adakan selama 3 hari, yaitu hari pertama adalah " Buat Bumbu " (Dalam Bahasa Sambas ) yang arti nya di hari tersebut, para ibu - ibu, gadis - gadis, atau yang berjenis kelamin wanita, gotong royong bikin rempah - rempah di rumah empunya Acara, yang mana kegiatan tersebut di lakukan pagi hari, biasanya satu RT atau yang di panggil untuk ikut acara tersbut saja kalo istilah modern di acara resepsi adalah yang di beri undangan saja, tapi kalo bahasa Sambas nya yaitu di "Saro' " yang mana sang empunya acara mendatangi setiap rumah dan di ajak menghadiri acaranya pada hari dan waktu yang di tentukan untuk membantu kerja sama dengan yang lain nya mengerjakan rempah - rempah yang akan di gunakan pada " hari Motong ", tapi jangan kuatir Gan, karna Pada Hari Kedua acara yang di sebut " Hari Motong " yang mana para warga yang di jemput datang ke rumah empunya acara, tamu tersebut yang di undang biasanya membawa Bekal, yaitu Satu Ekor Ayam (Ayam yang masih Hidup ), dan Beras ( tidak kurang dan lebih dari 1 Kg saja ), tamu yang datang itu, per rumahnya membawa satu ekor ayam dan beras, sehingga " Hari Motong " tersebut identik dengan pemotongan ayam, yang mana kalo di pikir - pikir bahwa biaya untuk suatu acara " tepung tawar " atau pernikahan itu relatif sedikit, karna ya kayak arisan dan gotong royong begitulah. Di Hari Ke 2 ini ( Hari Motong ", biasanya para warga yang di undang untuk hadir adalah sekitar 200an begitu, 200an di hitung dari jumlah rumah bukan orang, itu belom termasuk yang undangan khas, yang mana undangan khas adalah orang yang di beri " Kartu Undangan " bukan di " Saro' ".

Di hari Kedua,menu yang di santap sangat sederhana, yaitu terkadang ikan asin, sayur kacang, Nanas, dan sebagai nya, yang mana setiap undangan atau tamu yang hadir, makan secara saprahan, yang mana terdiri dari 6 orang, semuanya sudah di atur, sehingga target sang empunya rumah bikin acara seperti ini tidak kekurangan makanan untuk tamu yang hadir.

Di Malam hari nya biasanya para warga yang di pilih untuk bekerja atau kalo resepsi ada panitia nya yang mengurus konsumsi, kalo di acara "tepung tawar " hanyalah mengandal kan kerja sama antara satu sama lain, tidak ada istilah upah berupa uang atau materi lain nya. Karna setiap orang di sana akan mengalami hal yang sama dan mengerjakan hal yang sama, biasanya yang bagian memasak itu berada di tanah, namun di beri tenda, biasanya mereka tidak tidur satu malam, kalo bagian memasak Bagian Lau - Pauk biasanay ada 12 orang, atau enam orang, kalo bagian yang memasak nasi sekitar 4 orang dan ada juga bagian yang mengatur berapa jumlah lauk yang akan di bagi dalam arti kata, misal nya satu ekor ayam ini mau di bikin berapa potong sehingga jumlah yang di undang untuk acara tersebut tercukupi konsumsi nya.

Acara yang paling meriah adalah acara Hari 3 yang mana di acara tersebut diadakan baca - bacaan yang sepertinya adalah lagu - lagu dalam bahasa arab, tapi orang di sana menyebut nya dengan " Zikir " yang mana, ada buku nya tapi bukan berisi ayat - ayat Alquran, melainkan seperti sebuah puisi atau lagu yang di lantunkan bersama - sama dengan di iringi Rebana, yang terbuat dari kulit sapi atau pun kulit kambing.

Di hari ketiga ini di adakan juga acara " motong rambut " yang mana rambut si bayi yang baru lahir ( anak empunya rumah ) di potong sedikit sebagai pelengkap acara, dan acara ini di lakukan setiap kelahiran anak baru dalam sebuah keluarga, namun tergantung keluarga tersebut seberapa besar, atau meriah nya acara tersebut yang mana di pengaruhi oleh modal keluarga itu sendiri.

Di Hari ke 3 ini lah, menu yang di sajikan lumayan mewah, yang mana, ayam ( yang kemarin di bawa masing2 oleh warga ), ayam di sini bukan satu ekor, melainkan setengah saja, kan satu saprahan 6 orang, ada telur, sapi, pokok nya daging - daging begitulah. Nah, pasti bingung, siapa yang menyajikan , yang mengantarkan makanan, yang membasuh piring dan sebagai nya, jangan kuatir, bahwa di sana, beberapa warga yang di tunjuk untuk mengurus hal - hal mengenai siapa yang akan membawakan makanan, membasuh piring, telah di atur sedemikian rupa, sehingga para tamu atau warga yang hadir hanya tinggal menunggu giliran saja untuk menyantap makanan, biasanya kalo satu saprahan udah selesai makan, lansung di angkat piring mereka, tempat mereka duduk ( duduk di lantai bukan kursi ) di bersihkan pake lap, sehingga lansung di tempati oleh warga lain nya, biasanya jam makan nya di mulai sekitar jam 9 sampe hampir jam 12 siang, yang mana harus antri dulu, biasanya yang datang awal, lansung di sajikan makanan, di susul yang datang selanjut nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar